Kerja Kerja Kerja! Kata Jokowi, seakan-akan bangsa ini adalah bangsa pemalas. Tentu bukan begitu maksudnya. Jokowi hanya mengingatkan kembali bahwa kita harus bekerja keras mendapatkan yang kita inginkan. Bekerja keras membangun bangsa. Saya setuju Pak! Karena menurut saya, banyak orang yang mau hidup enak dengan cara cepat. Instant success!

Di film dokumenter mengenai Alicia Keys yang saya tonton di perpustakaan Universitas Ryukyu di Okinawa tahun 2002, dia membuat pernyataan never underestimate the power of hard work.

Lucunya, di Facebook beberapa saat lalu, beredar quote dari seseorang tokoh yang saya lupa namanya. Katanya kalau hard work itu menjamin kesuksesan seseorang, semua wanita di Afrika pasti sudah kaya raya. Apa artinya? Silahkan dipikirkan. Kalau butuh teman diskusi, silahkan hubungi saya!

Tetapi sebenarnya kenapa kita bekerja? Umumnya pasti karena ingin mendapatkan uang. Walaupun banyak juga yang bilang saya bekerja sebagai bagian dari ibadah, membalas budi kepada orang tua, meraih cita-cita, dan alasan lainnya yang tidak semata-mata bertujuan untuk mendapatkan materi. Sah-sah saja rasanya dan semuanya bertujuan mulia. Tetapi apa sebenarnya motivasi utama kita bekerja?

Suatu hari saya hadir di pertemuan ULab Jakarta Hub, yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan makan-makan lainnya. Tidak seperti biasanya sebuah pertemuan makan siang dengan teman lama. Kami berempat tetapi hanya satu yang sudah saya kenal lama. Kami membicarakan banyak hal terkait pertemuan ULab hari itu. Mungkin cukup berat topik pembicaraannya bagi banyak orang, mulai dari teori-teori kehidupan sampai dengan psikologi manusia. Maklum salah satu di antara kami berlatar belakang psikologi dan salah duanya berlatar belakang biologi, salah tiganya berlatar belakang media dan musik, dan saya, salah empatnya, bisa dibilang seorang Generalist.

Diawali dengan topik mengenai kehidupan, mengenai dunia dan permasalahannya, mengenai manusia yang menjadi penyebab kekacauan dunia sekaligus yang memiliki kekuatan untuk membawa perubahan yang lebih baik, diskusi yang dilakukan sambil menikmati ramen tersebut berlanjut dengan sebuah pertanyaan. Mengapa Theory U yang tidak baru ini, karena sebenarnya dilahirkan dari teori System Thinking dan juga System Dynamics, belum juga membawa perubahan? Kemudian kita sepakat bahwa pertemuan seperti ULab ini harusnya diketahui oleh banyak orang, sehingga banyak orang datang untuk menjadi bagian dari proses untuk menciptakan perubahan yang lebih baik di masyarakat.

Sayangnya banyak orang yang tidak tahu, atau tidak mau tahu. Tidak ingin terlibat atau tidak menganggap pertemuan ini adalah kesempatan untuk memahami apa yang terjadi di dunia ini dan bagaimana kita dapat berkontribusi membawa perubahan yang lebih baik melalui peran kita. Atau mungkin banyak orang tidak merasa membutuhkan pertemuan yang membutuhkan proses berpikir? Karena banyak manusia tidak suka berpikir karena berpikir itu melelahkan. Akhirnya kita bersepakat bahwa pendidikan adalah salah satu alat yang sangat penting untuk menciptakan manusia-manusia yang mau ikut peduli dan menciptakan perubahan.

 “Unless someone like you cares whole awful lot nothing is going to get better. It’s not.” – The Lorax,

Karena salah satu dari kami berprofesi sebagai seorang pendidik formal, maka kami pun mulai bercerita tentang profesi kami masing-masing. Sebuah topik yang mungkin paling relevan dan umum dibicarakan di banyak pertemuan dengan teman-teman. Kita saling bertukar cerita mengenai apa yang kita lakukan dan kenapa kita memilih apa yang kita sekarang kerjakan. Rekan yang berprofesi sebagai pendidik pun menyebutkan ada sebuah buku yang berjudul The Why of Work.

Saya sendiri belum membaca buku tersebut, akan tetapi saya penasaran apakah jika kita bertanya kepada diri kita sendiri, kita bisa menjawabnya dengan sepenuh hati dan penuh percaya diri. Atau jika kita tanyakan kepada sembarang orang yang kita temui di jalan atau angkutan umum, apakah mereka dapat menjawab pertanyaan “apakah yang mereka cari?” Ibadah, menjadi khalifah di muka bumi ini, bertahan hidup, menyenangkan orang tua, atau untuk mencari segenggam berlian?

Di Facebook juga banyak beredar gambar diagram IkigaiIntinya menemukan ikigai, ibarat menemukan hal yang kita cintai, yang kita sangat mahir, yang dapat menghasilkan uang dan yang dibutuhkan oleh dunia.

Apakah saya sudah menemukan ikigai saya? Pastinya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar dapat melakukan pekerjaan yang…

  1. Halal dan diridhoi oleh-Nya.
  2. Menjadi ibadah kepada-Nya.
  3. Memberikan rasa ikhlas dalam menjalankannya.
  4. Memberikan rasa syukur yang tiada habisnya.
  5. Membahagiakan kedua orang tua dan saudara.
  6. Membahagiakan diri.
  7. Menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya.
  8. Mempererat hubungan dengan pasangan.
  9. Membawa kebaikan untuk orang banyak.
  10. Menciptakan dunia yang lebih baik.
  11. Membawa kedamaian dunia.
  12. Memberikan kesempatan untuk menolong sesama manusia dan mahluk Tuhan lainnya yang membutuhkan.
  13. Memberikan kemampuan untuk berbagi.
  14. Memiliki lingkungan kerja yang sehat, aman dan baik bagi kesehatan jasmani dan rohani, mental dan fisik, termasuk dalam perjalanan menuju dan dari tempat kerja.
  15. Meningkatkan rasa percaya diri dan harapan.
  16. Memberikan arti kehidupan, kesempatan belajar dan mengembangkan diri.
  17. Memberikan penghargaan berupa kompensasi yang memadai, jenjang karir, dan dukungan positif.
  18. Memberikan kesempatan belajar dan bekerja dengan pemimpin dan tim yang dapat dipercaya, diandalkan, saling mendukung dan berbagi tujuan bersama.
  19. Memiliki cara belajar dan cara bekerja yang saling menguatkan.
  20. Dan hal-hal baik lainnya yang dapat dibayangkan…

Saya sadar, tidak ada pekerjaan yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, dunia ini indah dan penuh harapan. Hidup ini juga hanya sebentar. Tidakkah kita ingin memberikan arti kepada kehidupan ini melalui pekerjaan kita dan tidak hanya “sekedar bekerja”?








Pin It on Pinterest