Naik Kereta Api… Tut Tut Tut!


Devin    September 2, 2016    Blog, Karakter, Life    , , , , , ,

Naik kereta Commuter Line itu ibarat perjuangan hidup. Ada kalanya kita mau marah, well most of the time, dan ada kalanya kita tersadar bahwa mungkin di atas kereta lah salah satu ujian kehidupan terjadi.

Perilaku di atas kereta menurut saya adalah sebuah cerminan dari cara kita menjalani kehidupan. Apakah kita egois, mau enak sendiri dengan menghalalkan segala cara, tidak peduli akan kesulitan orang lain, bersikap semau gue dan saling sikut? Atau kita seseorang yang sadar akan keberadaan diri di atas muka bumi dan dampak dari keputusan yang kita ambil? Apakah kita tipe orang yang ingin maju bersama-sama dan orang yang selalu ingin menolong orang lain?

Watak, kepribadian dan perilaku asli kita akan muncul di atas kereta. Karena di atas kereta kita dihadapkan dengan situasi sulit, sulit bergerak dan berpegangan, dan di bawah tekanan atau tepatnya himpitan banyak orang. Mulai dari tidak adanya sistem antrian di peron stasiun, kereta yang terlambat dan berdesakan tidak beraturan, dan juga perilaku penumpang kereta yang kurang peka atau malah tidak peduli sama sekali, dengan situasi di sekitarnya. Lengkaplah semua derita naik transportasi umum!

Coba sekali-kali naik kereta saat jam sibuk dan perhatikan bagaimana interaksi dan perilaku manusia di sekeliling kita. Mungkin terkesan tidak ada yang aneh jika kita menganggap semua yang kita lihat adalah biasa saja. Mungkin karena sering terjadi di kehidupan kita sehari-hari, maka kita tidak melihat sesuatu yang luar biasa. Atau, kita bisa mendapatkan pesan moral dari apa yang kita lihat?

Sistem angkutan masal perkotaan berbasis rel memang cukup baru, walaupun sistem perkeretaapian kita sudah beroperasi sejak lama. Kesadaran kita akan perilaku di ruang publik pun masih sangat rendah. Banyak dari kita tidak tahu batas antara ruang pribadi dan ruang publik. Isu mengenai perilaku manusia di ruang publik juga belum banyak dibahas di media dan obrolan sehari-hari. Betul tidak?

Akan tetapi bukan berarti kita menganggap bahwa perilaku masyarakat yang buruk di ruang publik adalah sah-sah saja karena negara kita adalah negara berkembang. Atau sah-sah saja karena segala sesuatunya masih berproses.

Memang, perubahan perilaku itu tidak mudah, apalagi ketika apa yang kita lakukan sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Sudah menjadi budaya kata orang. Lebih parahnya, hal tersebut diamini sebagai sebuah kewajaran. Kata orang butuh pergantian generasi untuk merubah kebiasaan. Walaupun saya kurang setuju. Karena menurut saya generasi yang lebih muda saat ini juga tidak berbeda dengan generasi yang lebih tua.

Menurut saya perubahan perilaku itu, selain membutuhkan pengkondisian sehingga kebiasaan buruk dapat difasilitasi untuk berubah menjadi lebih baik. Perubahan perilaku juga membutuhkan logika dan akal sehat. Karena laiknya manusia pada umumnya, mereka akan melakukan sesuatu (berubah) jika mereka merasakan ‘keuntungan’ dari perubahan itu. Nah, di sini gak nyambungnya…

Menurut saya, di atas kereta itu banyak orang yang tidak memahami keuntungan dari berperilaku baik di ruang publik. Mungkin karena mereka tidak berpikir, apalagi menggunakan logika dan akal sehatnya. Karena biasanya keuntungan dari berperilaku baik di ruang publik tidak dapat langsung terlihat atau langsung dirasakan. Butuh logika dan akal sehat untuk dapat memahami dan menyadarinya.

Sebenarnya perilaku apa saja yang saya maksud kebiasaan buruk di atas kereta?

Kita tidak mengantri untuk masuk atau keluar kereta.

Sayangnya memang hal ini salah satunya juga karena titik antrian dan himbauan untuk mengantri tidak ada.

Pertama karena kereta yang kita miliki tidak memiliki spesifikasi yang sama, maklum kereta bekas. Jenis kereta kita memiliki jumlah dan lokasi pintu yang berbeda. Petunjuk pun tidak disediakan, sehingga kita tidak tahu sebaiknya mengantri di titik mana. Sehingga penumpang yang datang lebih dahulu belum tentu ‘terangkut’ di kereta yang baru datang karena salah posisi. Akhirnya, orang lain yang berdirinya kebetulan pas di dekat pintu dapat ‘terangkut’ lebih dulu.

Kedua, kita sebenarnya diimbau melalui announcement untuk mendahulukan penumpang yang akan keluar atau jangan berdiri menghalangi pintu. Katanya manusia itu kecenderungannya melanggar hukum (aturan). Aturan yang dibuat oleh Tuhan YME, termasuk hukum alam, sampai dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah, seperti peraturan lalu lintas. Apalagi sekedar himbauan.

Bagi masyarakat yang kesadarannya rendah, himbauan hanyalah ibarat angin lalu. Himbauan untuk berdiri dibelakang garis kuning (garis batas aman) tidak dihiraukan. Walaupun ada himbauan berupa tulisan besar pun banyak orang seakan tidak bisa membaca atau mengerti arti dari himbauan tersebut. Ini urusan keselamatan loh. Urusan nyawa!

Ketiga, mengantri belum menjadi kebiasaan apalagi budaya.”Pokoknya harus masuk kereta, bagaimanapun caranya”, mungkin begitulah kira-kira yang ada di benak banyak orang. Saya berpendapat mengantri itu ibarat orang ingin masuk surga.  Emang masuk surga kita bisa saling sikut dan tidak mengantri? Somehow, perasaan saya mengatakan bahwa kita harus mengantri menunggu giliran untuk dimintakan pertanggung jawaban atas perilaku kita di dunia.

Penumpang di atas kereta banyak yang senang berdiri di dekat pintu, mungkin biar bisa segera keluar. Akan tetapi, sepertinya beberapa orang memang senang berdiri di dekat pintu. “Tidak apalah mengganjal pergerakan orang yang keluar masuk, sejauh posisi saya di dekat pintu aman”.

Kita sibuk dengan gawai dan tidak peduli akan situasi sekeliling.

Well, ini fenomena yang terjadi di manapun. Di berbagai kota besar di seluruh dunia ataupun di ruang publik di mana pun. Ketika kita sibuk dengan gawai atau buku, perhatian kita tentu terfokus pada apa yang kita pegang atau lihat. Menurut saya sikap ini egois. Kenapa? Karena di saat jam sibuk dan dengan kondisi kereta seperti sekarang ini di Jakarta, menurut saya sebaiknya tidak mengedepankan kepentingan pribadi, misalnya memegang HP atau membaca buku. Saya bukannya tidak senang melihat orang membaca buku atau berita melalui HP. Tetapi sebaiknya kita berpegangan dan responsif terhadap perubahan situasi setiap ada penumpang yang keluar dan masuk kereta. Sebaiknya semua penumpang sigap dalam memberikan ruang bergerak atau ruang berdiri, dan tanggap untuk menyesuaikan posisi.

Sayangnya kadang banyak orang malah sibuk ngegossip di Whatsapp, Line atau BBM, mengganti profile picture, atau mengedit swafotonya. Gak penting banget kan? Kalau memang harus banget memegang HP atau membaca buku, setidaknya satu tangan memegang HP dan tangan lainnya pegangan. Hal ini pasti sangat membantu. Tetapi ketika kedua tangan memegang HP atau satu tangan memegang HP dan tangan lainnya memeluk tas. Lalu, mau pegangan pakai tangan yang mana? Lebih gak enak lagi, orang yang memegang HP atau buku juga cenderung memakan ruang untuk buku dan HP-nya.

Kenapa pegangan penting? Karena masinis kita kerap menjalankan kereta dengan kecepatan tidak stabil dan sering kali mengerem mendadak. Bisa jadi karena sulit bagi sistem perkeretaapian kita untuk menentukan kecepatan yang stabil. Ditambah banyaknya persimpangan dan gangguan sepanjang jalur kereta. Ketika saya naik kereta dari Oume Shi ke Kunitachi Shi yang memakan waktu sekitar 40 menit selama satu tahun, seingat saya tidak ada manuver-manuver menyusahkan seperti yang terjadi di atas Commuter Line.

Penumpang kereta juga tidak semuanya berperilaku buruk, karena tentunya ada penumpang yang sadar dan responsif terhadap situasi di atas kereta. Tetapi tidak sedikit yang ketika kita meminta tolong untuk bergeser atau berpegangan, malah merespon dengan membentak ‘diem deh lo, rese banget sih, emang gue ngeganggu lo’. OMG, bukannya bilang ‘oh maaf’, dan langsung bergeser atau berpegangan!

Saya penasaran, apakah orang yang membawa tas besar dan dipeluk itu sadar kalau mereka memakan ruang lebih? Apalagi ditambah dengan jam tangan yang menonjol di tangan yang memeluk. Belum lagi ujung atau bahan tas yang keras, adalah bagian yang sangat menyakitkan punggung, pinggul dan lengan.

Jika masih ada ruang di kabin dan kita tanya apakah mau ditaruh di kabin, banyak yang menolak dengan alasan takut lupa. Baiklah….. Kalau menurut saya sebaiknya tas itu dijinjing di bawah (area kaki) oleh satu tangan dan tangan lainnya bisa berpegangan. Karena, tidak ada copet yang merangkak di bawah bukan? Dan ruang di bawah itu masih cukup longgar dibandingkan ruang di atas.

Sebenarnya, PT KCJ sudah berusaha mengedukasi pengguna Commuter Line mengenai bentuk-bentuk keadilan di ruang publik. Misalnya sistem tiket yang terintegrasi, sehingga semua orang tanpa membedakan latar belakang ekonomi mendapatkan fasilitas angkutan umum yang sama dan membayar karcis dengan harga yang sama. Adil bukan?

Angkutan umum memang selaiknya memperlakukan setiap orang dengan seadil-adilnya. Penyediaan angkutan umum masal yang baik juga merupakan tanggung jawab pemerintah. Akan tetapi, tidak hanya menyediakan fasilitas dasar, perubahan perilaku penumpang kereta di ruang publik juga harus dan terus difasilitasi.

Penumpang pun harus lebih sadar diri dan peduli akan kesulitan orang lain di atas kereta. Karena semua orang sama-sama membayar karcis kereta, dan juga memiliki hak yang sama.








Pin It on Pinterest