Tulisan


    August 10, 2016    Blog    , , , ,

Ini bukan pertama kali saya mencoba untuk menulis. Mungkin untuk ketiga kalinya dan syukurlah dengan dukungan orang terkasih, akhirnya saya menulis.

Kali ini pemicu utama saya untuk menulis dengan serius adalah seorang petinggi di tempat saya bekerja saat ini. Suatu Jumat pagi saya dan atasan saya menghadap beliau. Saya diperkenalkan dan beliau ternyata merespon dengan menyebut salah satu tokoh cerita favorit saya, Winnetou. Dari mana Bapak tahu, tanya saya. Ternyata beliau mengunjungi online CV saya yang beliau sebut sebagai blog. Di akhir pertemuan saya mengetahui bahwa beliau aktif di media sosial dan memiliki sebuah blog. Beliau juga telah membukukan beberapa cerita dari blog-nya. Beruntunglah saya, sebuah buku yang inspiratif menjadi oleh-oleh yang saya bawa keluar dari ruangan beliau.

Setelah membaca cerita-cerita di dalam bukunya yang sederhana tetapi sangat menginspirasi, muncul keinginan saya untuk mencoba menulis lagi. Sejak lama saya didorong untuk menulis oleh orang-orang yang yang meyakini kalau saya punya bakat menulis, well paling tidak berlatih menulis. Waktu SMA dulu, guru Bahasa Indonesia di SMA 109, tempat saya bersekolah mendorong saya untuk ikut kompetisi menulis esai. Dengan persiapan dan waktu yang sangat terbatas, saya menulis tentang ‘halte bus’. Saat itu saya baru pulang dari program pertukaran pelajar di Tokyo selama satu tahun.

Fresh from the oven, katanya. Banyak hal yang bisa saya ceritakan dengan membandingkan ‘halte bus’ di dua kota, Jakarta dan Tokyo. Saya lolos babak semifinal dan harus mempresentasikan isi dari tulisan saya. Alhamdulillah, saya menang juara II, mendapatkan piagam dan hadiah uang. Kalau tidak salah sekitar tiga ratus ribu rupiah. Sayangnya, setelah itu tidak ada lagi kesempatan ataupun upaya saya untuk mengasah kemampuan menulis.

Ketika sepupu saya sering menulis cerpen dan mengirimkan ke majalah Gadis, rasanya saya hanya menulis cerita atau puisi untuk dibaca sendiri. Tidak banyak dan tidak pernah saya simpan pula. Ibu sayalah sosok yang mengenalkan saya dengan dunia sastra Indonesia. Membaca buku karangan penulis legendaris Indonesia, menulis puisi sampai membaca puisi – saya pernah ikut lomba membaca puisi loh!

Saya juga mencoba menulis diary, tetapi di tengah jalan selalu terhenti. Pernah juga saya menulis diary bersama dengan seorang sahabat di SMA. Walaupun hampir setiap hari bertemu, kami saling bertukar cerita melalui diary itu. Entah di mana sahabat itu sekarang, namanya Derby.

Waktu bersekolah di Melbourne selama dua tahun, banyak juga teman-teman sesama penerima beasiswa ber-blogging ria. Saya pun ingin mencoba, tetapi sampai saatnya saya kembali ke Indonesia pun, saya tidak pernah menulis sedikit pun.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mencoba menulis blog lagi untuk mengeluarkan banyak hal dalam benak saya. Saya orang yang tidak hanya suka berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal, tetapi juga berfikir, menganalisa dan mengevaluasi diri. Banyak hal yang ‘berseliweran’ di benak saya. Karena saya senang mengamati banyak hal, maka pikiran saya selalu bekerja menginvestigasi yang saya lihat.

Waktu di Melbourne, benak yang selalu sibuk ini membuat saya kesulitan tidur. Housemate saya seorang PhD student di Psikologi menyarankan saya untuk menyediakan alat tulis di dekat tempat tidur. Katanya metode ini membantu melepas pemikiran yang menyibukan benak kita, releasing your mind.

Anyways, orang terdekat saya saat ini tiada hentinya mendorong saya untuk menulis, setidaknya menyempatkan waktu untuk menulis. Saya juga dibuatkan medium untuk menulis yang langsung terintegrasi dengan CV online saya. Voila! Jadilah blog ini!

Harapan saya blog ini dapat dibaca oleh banyak fellow Indonesians, so it is written in Bahasa Indonesia. Hanya itu aturan utama blog ini. Selebihnya isi blog ini sesuai dengan keinginan saya. Tidak ada foto-foto dan tidak ada referensi publikasi manapun. Gaya bahasa yang campur-campur tetapi tetap mencoba berkiblat pada Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Murni, blog ini tempat saya menuangkan pemikiran-pemikiran yang terbentuk selama saya hidup di muka bumi ini sebagai orang Indonesia yang besar di antara Jakarta dan Depok, dengan sedikit sentuhan Jepang, Australia dan Singapura.

To non-Bahasa Indonesia speaking readers…

This blog is written in Bahasa Indonesia as I want it to be as inclusive as possible for fellow Indonesians. I welcome you to read my blog using a translation engine. We’ve been trying to find the best way to incorporate the translation option that doesn’t ruin the look of the website, but haven’t found the right one. Let me know if you know how to do it!

 



Leave a Reply

Your email address will not be published.